Tampilkan postingan dengan label KKN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KKN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2012

Malam Bersama Capila



Waktu menunjukkan pukul 00.00 waktu Ehime. Terdengar suara bel dipencet beberapa kali. Dari dalam kamar berusaha kunyalakan lampu dan melihat keluar dari celah pintu yang berbentuk lensa. Tengah malam begini Fadli ternyata datang ke kamarku. Belum dengan kondisi mata yang sempurna kemudian kubuka pintu kamar apartemen.

Bonbon….
Terdengar tiga suara gadis yang sudah tak asing lagi di telingaku.
Ha… Capila,… ternyata menyambangi kamarku
Tiga orang Mahasiswa Ehime University yang pernah ke indonesia untuk melaksanakan KKN Internasioanl di Makassar. Capila dalam bahasa Makassar berarti Cerewet. Lucunya, tiga gadis jepang itu sama sekali belum tahu apa arti capila sampai sekarang. Tetap saja mereka suka dengan nama itu.

Bonbon. Apa kabar?, kembali keceriaan ketiga gadis itu menyapaku, sesaat mataku harus kupaksakan untuk tidak tertutup.
Ngantuk?,..
Tidak,. Saya tidak ngantuk.
Bohong, itu mukamu masih kelihatan ngantuk, maafkan kami bonbon. Gomennasai
Daijobu yo,.. (Tidak apa-apa).
Aku kemudian bergegas mencuci muka. Setelah itu mengeluarkan sebuah toples unik dari karton yang berisikan kue kering buatan Mama. Sebenarnya toples itu saya beli di toko hyaku eng, sebuah toko yang

Selasa, 31 Juli 2012

DI JALAN



Angin berteman hawa dingin menghampiri. Pada beberapa saat aku harus berhenti untuk sekedar memasang kaos tangan, berharap dingin yang mulai datang menyerbu sedikit tertahan untuk tidak menyerang pori begitu dalam. Seingatku ini adalah perjalanan terjauh yang pernah kutempuh dengan mengendarai sepeda. Sekitar empat kilometer jalan harus kulalui. Pada sisi belakang sudah Nampak mbak arom sudah ngosngsosan mengayuh sepeda. Ayo mbak, semangat, teriakku. Tapi benar saja, kami sungguh tak merasakan ini sebagai beban berat untuk ke kampus tiap hari dengan mengandarai sepeda. Beruntung sama sekali tak ada debu dan polusi knalpot yang bertebaran sepertiketika kita mengendarai motor di Indonesia, jika demikian maka bisa kubayangkan bagaimana hitam dan kusamnya muka ini setelah sampai di kampus.
sepanjang jalan tak tampak sampah yang berserakan, tak ada orang menyeberang jalan sembarangan, tak ada juga kemacetan dan bunyi klakson mobil yang bersaut-sautan, trotoar sangat lebar dan ramah bagi pejalan kaki maupun pengendara sepeda. Semua orang tampak tertib dan patuh pada aturan

Senin, 30 Juli 2012

Menelepon Ibu


Bus melaju tidak begitu cepat. Rumah yang dilalui tak begitu beragam. Hampir semua desain dan ukuran rumah sama. Terlihat dari kaca jendela minimarket-minimarket berukuran sederhana, sementara pagar-pagar rumah kelihatan berwarna cokelat bertanda pagar itu sudah lawas. Bunyi kereta turut berirama dalam menemani kesunyian sore.
Orimasho, kita sampai pada sebuah apartemen berukuran tak terlalu besar. Ehime University International House, sebuah apartemen yang khusus disediakn untuk mahasiswa asing yang sedang menjalankan studi di Ehime University, tepatnya di jalan Takanoko Co 40, kota Matsuyama, sekitar 30 menit dari kampus Ehime University di Tarumi .
            Pada halaman depan sama sekali tak tersedia taman seperti biasa yang dihuni banyak rerumputan hijau kecuali beberapa sepeda yang kini terparkir di dekat sebuah box telepon umum. Beberapa meter dari

Sabtu, 28 Juli 2012

OSAKA



*
Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
*
 Indonesia ini terlalu indah buat dilupakan. Bila malam datang, maka mencobalah menatap langit lebih lama akan terlihat banyak bintang yang bertebaran, lalu berjalanlah ke pelosok Sulawesi sinar bintang begitu berlimpah serasa kita hidup dalam dekapan bintang. Kita masih memiliki bintang yang indah itu, anugrah tuhan yang tak ada duanya. sayang, kita tak pernah tahu, bahwa kita tengah berada pada nikmat yang besar, orang bule yang keindonesia lalu menatap bintang maka akan sumringah, mengeluarkan kamera dan segera memotrer. Its Amazing katanya.
Ada sedikit rasa haru yang bercampur aduk ketika mendengarkan syair lagu ini. Tepat di hadapan kami berempat lagu itu menggema. Setelah itu saya Asyik memutar sebuah Film yang menceritakan kisah takerwan  di luar negeri. Kadang memancing emosi untuk bertindak tegas, memompa semangat untuk segera berbuat mengutuk gerak para majikan yang sadis terhadap takerwan Indonesia dan menghujat para agen yang rela menjual sanak

Haru & Gelisah di Mata Para Ibu



Di Bandara Sultan hasanuddin Makassar.
Kutatap wajah ibu untuk kesekian kalinya. Rasa gelisah itu belum juga berkurang, tepatnya semakin memuncak. Belum ada juga obat yang mampu membendung rasa khawatirnya, padahal beberapa saat pada pengalaman sebelumnya ibu akan tenang setelah kuperkenalkan beberapa teman, aku tak sendiri ibu. Maka ibu akan berbesar hati, yakin kalau aku baik-baik saja. Ternyata ibu kali ini sungguh khawatir, apalagi mengantar anaknya bepergian ke luar negeri untuk pertama kalinya.
Ibu kelihatan tak focus. Gelisah masih kuat mengarca pada gurat wajahnya, meski pada sekian kali ia bersuara untuk berbasa basi kepada Ibu Nurul, orang tua yang turut mengantar anaknya pada sebuah