Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2012

Ibu, Kubutuh Doamu



Ibu, jika kemarin aku pernah bersalah dan meneteskan air matamu
Maka kubutuh doamu untuk membuka mata hatiku, membentang jalan kesusahan di hadapanku
Hingga aku ingat tentang masalah itu

Ibu, jika hari esok aku menjadi sukses dan mengakui semua karena kemandirianku
Maka kubutuh doamu untuk menghambat kesuksesan itu
Hingga aku sadar bahwa doamulah yang menunjukkan jalanku.

Ibu, jika belum kuucap kalimat cintaku untukmu
Maka kubutuh doamu, supaya lidah ini kaku menyebut kata cinta pada wanita lain
Hingga lidahku mampu mengucap cinta untukmu

Ibu, jika esok ada wanita yang membersamaiku, dan menggeser kasihku terhadapmu
Maka kubutuh doamu untuk memutuskan tali kebersamaan itu
Hingga aku menemukan wanita yang rela mendapat cinta kedua setelah cintaku padamu

Ibu, jika nanti aku harus berair mata karena derita
Maka kubutuh doamu untuk mengingat segala deritamu
Hingga aku berair mata mengingat segala pengorbanmu yang lebih besar dari deritaku

Ibu, jika nanti ada kalimat paling indah yang mampu kutulis
Maka kubutuh doamu untuk membuka hatiku bahwa tak ada kalimat yang paling indah
Selain kalimat doamu terhadap anakmu.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Kenapa Tuhan?


Kenapa, tuhan
Oleh : Supriadi Herman
Tuhan, sudahkah habis malam-malamku untuk-Mu?
Hingga mataku terbangun pada pertengahan malam namun  tak sempat lagi bersujud padamu
Tuhan, kenapa Tuhan?
Saya kenapa Tuhan?

Tuhan, Sudahkah habis air mataku untuk-Mu?
Hingga tak pernah lagi tersentuh hati ini ketika sendiri
Sudahkah air mata itu kini kering tertutup debu-debu dosa?

Tuhan,
 kenapa mataku?
Ada apa dengan mataku?
Dosa apa yang telah diperbuatnya?

Tuhan?,
Semakin mudah kulihat semua kesalahan
Semakin gampang membenarkan keadaan