Sabtu, 29 Agustus 2015

Kata Mereka tentang Indonesia


                Suatu ketika saya berkunjung ke salah satu apartemen teman yang berkebangsaan Uganda dan saling bercerita tentang negara kami masing-masing. Beberapa pertanyaan yang saya ajukan adalah seputar kondisi Uganda. Selain bercerita tentang kondisi iklim uganda, makanan pokok di Uganda yang menjadikan pisang menjadi makanan pokok dengan diproses sedimikian rupa sampai kepada jumlah muslim di uganda. Seperti biasa pertanyaan saya yang hampir selalu saya ingat adalah Apakah kamu tahu indonesia sebelumnya?. Jawabannya sungguh mengharukan, mana mungkin kami tidak tahu negara dengan populasi muslim terbesar di Dunia. Jawaban ini sungguh mengingatkan saya bahwa Indonesia bagaimana pun akan selalu diidentikkan dengan muslim, jika indonesia berhasil bangkit menjadi negara maju dan berpengaruh di dunia maka mata dunia akan terbuka dan mengubah pikiran mereka tentang muslim. Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, itu yang paling membekas kata Umar, dari Uganda.
                Aisyah, gadis sudan justru memiliki pandangan lain tentang Indonesia. Suatu saat salah satu teman iseng dan mengatakan kalau di mau pindah kewarganegaraan saja dari Indonesia dan ingin pindah ke malaysia. Aisyah secara spontan mengatakan, jangan! Jangan tinggalkan negaramu,

Kamis, 27 Agustus 2015

K-O-N-G-K-R-I-T


            Tiba-tiba kekosongan waktu di lab, membuat jari-jari saya gatal untuk menulis tentang Komunitas “kongkrit” yang selama ini mungkin hanya banyak terekam di status-status facebook para relawan dan orang yang bergiat di dalamnya.
K-O-N-G-K-R-I-T sebenarnya urutan huruf bias makna, pasalnya jika dicari di kamus besar bahasa indonesia justru yang ada hanya Konkret yang artinya nyata; benar-benar ada (berwujud, dapat dilihat, diraba, dsb). Namun bentuk kegiatan yang ada akan membuat orang mendefinisi sendiri tentang apa itu Komunitas Kongkrit.
Berawal dari diskusi kecil di masjid Alhurriyah, mesjid paling menyejukkan sepanjang masa yang saya kenal. Tak bisa dihilangkan dari sejarah, bahwa komunitas Kongrit dibangun oleh para “ustadz-usdatz” atau “akhi-akhi” yang lazim disandangkan bagi orang-orang yang rajin berkunjung ke mesjid yang konon katanya mengubah kata benda “uztadz” kini menjadi kata sifat begitu pun dengan akhi. Kongkrit, lahir dari sana, dari komunitas ustadz-ustadz dan akhi-akhi yang sering kali membenturkan kata afwan dan syukron dalam bertutur, tapi tak ada niat untuk menutup diri, kongkrit bukan hanya untuk akhi-akhi.
Kenapa namanya kongkrit?, karena sebenarnya nama bukan persoalan untuk memulai. komunitas ini bergegas melaksanakan buka puasa pada hari kamis tanggal 21 November  2014 dengan sekotak air mineral gelas beserta kue dan tiga biji kurma per orang. Gratiss, menjadi coretan menarik untuk menarik orang yang berbuka puasa datang. Selanjutnya kami merutinkan buka puasa senin-kamis yang lama-kelamaan menu buka puasanya seolah-olah membuat nafsu makan bertambah, belum lagi sesaat sebelum puasa beberapa orang mahasiswa dengan sukarela membawa buka puasanya sendiri atau memberikan langsung kepada petugas komunitas kongkrit . Berbekal fanpage facebook yang dibuat seadanya dan penyebaran informasi di aplikasi watss app, komunitas kongrit banyak dilirik, saya sendiri menyadari kalau ternyata orang yang mau berbagi untuk buka puasa itu banyak, bahkan teman kelas yang tak pernah menanyakan sama sekali tentang kegiatan Komunitas Kongkrit tiba-tiba hanya menitip pesan lewat WA, “Adi, saya sudah transfer  ke rekeningmu untuk kegiatan kongkrit”, saat itu karena saya yang punya beberapa nomor rekening dan diamanahkan untuk menjadi bendahara, tiba-tiba rekening saya menjadi gendut, beberapa donatur memilih tak ingin dipublish namanya dan memilih disebut hamba Allah. Beberapa hal berkesan adalah beberapa mahasiswa dengan sukarela membuat buka puasa ala mereka yang semuanya makanannya  sangat enak, semua didoakan mendapat ganjaran pahala, Insya Allah, pun ada yang pernah minta didoakan khusus agar selesai tepat waktu dan segera ketemu jodoh, pastinya kami aminkan.
Pekan-pekan selanjutnya menjadi pekan yang menyibukkan bagi komunitas kongkrit. Saya menjadi orang yang paling pertama protes ketika diusulkan agar kegiatan komunitas diperlebar

Rabu, 05 Agustus 2015

Berburu Kesan di Kagawa University, Jepang

Bagi sebagian orang mungkin akan merasa surprise jika mendengar fakta jika Puasa di sebagian besar wilayah Jepang berkisar sekitar 16 Jam yang dimulai sejak jam 3 dini hari hingga pukul 19.15 malam. Padahal nyatanya hampir seluruh mahasiswa Indonesia sepakat kalau ramadhan di jepang seperti lebih ringan dibanding ramadhan di Indonesia, mungkin karena cuaca di puasa tahun ini yang masih lumayan sejuk berkisat antara 21-29oC dan juga
rutinintas di kampus yang memang tidak pernah lepas dari kesibukan.
Kagawa University terbilang menjadi salah satu kampus yang sangat menghargai kehadiran mahasiswa muslim, pasalnya sejak 1 April 2015 kemarin, mahasiswa muslim disediakan ruang khusus untuk dijadikan mushollah, ruangan ini disejajarkan dengan fasilitas seni dan ruangan ekstrakurikuler lain di kampus ini. Bahkan dukungan civitas akademika di kampus ini terhadap kehadiran muslim dibuktikan dengan inisisasi makanan daging halal di kantin universitas yang rencana akan segera launcing dalam waktu dekat-dekat ini, hal ini menjadi hal yang masih sangat jarang ditemukan di Jepang.
Ramadhan di kampus dimana rare sugar pertama kali diproduksi secara massal ini juga mendapat khasanah pengetahun baru di puasa ramadhan kali ini, seiring bertambah pesatnya

Sabtu, 09 Mei 2015

Semua Mata Tertuju Padamu

Hari ke dua puluh di tanah rantau. “Kawaramchi-Kawaramachi desu....” bunyi kereta kotoden yang wajib kami dengarkan baik-baik. sejauh hitungan jam beralir ke detik baru, belum ada tempat yang paling sering kami kunjungi selain stasiun ini, Kawaramachi Eki.  Mungkin sejauh ini akhir pekan adalah milik Kawaramachi, tentunya untuk liburan, untuk refreshing dan kami menyebutnya the real refreshing. Mungkin di Indonesia sudah banyak mahasiswa yang tidak bisa membedakan antara hari libur atau bukan lantaran setiap hari diisi seperti liburan, kemana-mana kebanyakan waktu luang, bahkan buat mahasiswa tingkat akhir weekend hanya perubahan tanggal yang menambah daftar lama studi selebihnya bermalas-malasan untuk mengerjakan penelitian dan menunda bertemu dosen pembimbing.
                Saya selalu menjadi andalan jika bersama teman-teman SUIJI Kagawa. Sekedar untuk bertanya dalam bahasa jepang saya selalu disuruh paling depan, meski pada akhirnya untuk mentranslate jawaban butuh sedikit tebak-tebakan, begitu pun untuk memberikan ‘fatwa’ halal-haram ketika membeli makanan teman-teman SUIJI lebih mempercayakan untuk saya fatwai dengan jalan

Senin, 20 April 2015

Parti Pertama di Kagawa

16 maret 2015. Matahari mulai beranjak pergi, tapi hari seperti masih pagi jika sepintas melihat aktivitas teman seruangan, ruangan yang tidak pernah saya temui sebelumnya di kampus manapun di Indonesia. Di Jepang disediakan ruangan khusus untuk mahasiswa yang biasanya juga seruangan dengan dosen, hanya saja dosen di sediakan bilik khusus sebagai pemisah. Menurut saya pribadi yang bisa membuat hampir semua mahasiswa jepang bisa selesai tepat waktu ya karena ada ruangan ini, tanpa bersusah paya kita bisa bertemu dengan dosen untuk konsultasi seputar tesis atau hal lain yang dianggap perlu.
Sayonara Adi San.
“Sayonara” jawabku, dengan ekspresi sedikit bertanya-tanya seputar mengapa gadisdi depanku  mengucap sayonara, bukan see you atau mata ne.
Ternyata Yasunaga,Ozawa, Ogawa, Zogawa akan beranjak meninggalkan lab ini untuk selama-lamanya, besok mereka akan wisuda. Sekalian juga malam sebelum wisuda menjadi malam untuk merayakan parti. Terbayang malam ini akan banyak gelas-gelas berisikan alkohol di depan meja parti. Pun parti kali ini saya anggap sebagai tempat merayakan puasa sunnah senin kamis yang Insya Allah konsisten saya lakukan apalagi setelah tergabung dalam komunitas Kongkrit di IPB yang menurut saya komunitas ini memberi manfaat lain selain berbagi takjil gratis, tapi juga menumbuhkan minat puasa sunnah melalui syiar kecil berbuka puasa bersama di Masjid Kampus IPB-Al Hurriyah.
#####
Karena harus sholat magrib dulu, akhirnya Usizima san mengalah untuk memilih terlambat datang ke parti karena memilih menemani saya. seperti lazimnya orang jepang tak lupa usizima menelepon kepada rekan yang lain kalau kami akan terlambat datang, tentunya alasannya jelas, karena saya harus sholat dulu. Beruntung saya sudah memiliki kenalan muslim dari Banglades yang

Jumat, 03 April 2015

Assalamualaikum Kagawa

9 Maret 2015. Alhamdulillah untuk kedua kalinya menginjakkan kaki di terminal kedatangan kansai Internasional Airport, dulu datang bersamaan dengan 13 orang peserta SUIJI dan kali ini jalan sendiri. 
meski belum begitu banyak pengalaman perjalanan Internasional tapi standar baku seperti cap dua jari dan setor muka ke kamera sudah saya fahami dengan baik, tapi gaya saya yang seperti sudah terbiasa ternyata salah tempat saat menyetor paspor  dan setiba di depan petugas pengecek imigrasi langsung saja dia bertutur, maaf anda butuh membuat residen kard ke gate antrian ke 4 atau ke 5 Ya,hai, sumimamaseng jawabku segera. Beruntung bekal belajar bahasa jepang masih membekas..
                Sebenarnya antrian beberapa meter pun tak ada masalah kali ini, toh saya sedang tak terburu-buru mengejar jadwal bus atau menunggu jemputan. Saya sudah menginfokan ke sensei kalau saya akan tinggal di bandara malam ini dan paginya baru akan ke Takamatsu, bahkan saya merasa berlama-lama untuk berjalan hingga lantai bawah pun tak masalah. Malam cepatlah berlalu, mungkin bisikan hati saya demikian.
                Beberapa beban yang harus saya tunaikan mungkin adalah memberi kabar kepada orang tua kalau saya telah mendarat di Jepang dengan selamat, menunaikan sholat isya dan magrib,menukar sisa Ringgit ke Yen dan  membeli tiket di vanding machine dan menghubungi sensei paginya. Kalau agenda menghubungi orang tua dan sholat sudah barang tentu harus dikerjakan segera,  selebihnya  bisa dilakukan besok pagi dan saya tiba di lantai 1 bandara sekira pukul 22.30 lokal time. Di dekat tangga ternyata sudah ada fasilitas umum berupa internet dan telepon umum. Untuk memberi kabar orang tua, ya mau tak mau harus menggunakan telepon umum dengan biaya sekitar 100 Yen/20 detik

Senin, 23 Maret 2015

HAJIMETE


8 Maret 2015 dan 9 Maret. Saya menyebut dua  hari ini hari spesial, hari dimana saya hijrah ke Negeri sakura dan meninggalkan kampung halaman tercinta sekaligus hari itu juga adalah hari pernikahan kakak saya Kak Agus (Mantan Roommate ketika masih kuliah S1 sekitar tahun 2010-2011) dan diikuti pernikahan saudara saya yang lain Taufik (Juga Mantan Roommate sekitar tahun 2011-2012). Dua-duanya adalah orang-orang yang hebat. Saya kenal mereka begitu dekat tahu sifat buruk dan banyak sifat baik dari mereka tak segan saya mengatakan kepada mareka bahwa betapa beruntung wanita yang mempersuamikan orang-orang hebat seperti mereka, Kak Agus saya hubungi lewat BBM dan Taufik sendiri secara terang-terangan saya komentari pada kolom komentar facebook yang berisi status ucapan selamat kepadanya. Ya meski harus disayangkan karena ini mengulang ketiga kalinya saya tidak bisa hadir pada waktu spesial para saudara yang sangat dekat dan tahu banyak tentang kekurangan saya. (sebelumnya Kak yusiran, juga mantan roommate yang tidak saya hadiri acara nikahannya karena saat dia menikah saya sedang proses perbaikan skripsi dan dosen meminta untuk segera bertemu dalam waktu dekat.
8 Maret, sekira pukul 05.15 Wita saya meninggalkan rumah. Sempat kulihat ibu menitikkan airmata tapi sengaja tak kupandang lamat, biar perpisahan sementara yang kali ini terjadi tidak dipandang begitu spesial. Padahal Ibu sebelumnya sudah menawarkan diri untuk mengantar hingga ke bandara, rumah saya yang jauh dari bandara sekitar 200 km sepertinya cukup menjadi alasan, takut ibu capek dan belum lagi memakan biaya besar yang bisa dimanfaatkan untuk amal lain yang lebih manfaat.
Tak ada kejadian spesial sepengamatan saya dari perjalanan saya dari Bulukumba Desa Bontotanga (Kampung Halaman saya) hingga ke Bandara, selain orang yang duduk di samping saya yang terus bercerita dengan penumpang lain seputar istri mudanya sampai trik menjalin hubungan ala suami Istri yang kadang saya simak dan lebih banyak saya tinggalkan karena memilih memejamkan mata dan tidur selama yang saya bisa karena saya harus menyimpan banyak tenaga untuk menginap di Bandara Kuala Lumpur Malam ini., karena kebetulan tiket saya bukan tiket yang satu paket saya membeli tiket Makassar-Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur-Osaka secara terpisah yang memakan biaya sekitar 3,2 juta. Sedangkan